Tuesday, March 22, 2016

Kesehatan Mental Menurut Aliran Psikoanalisa dan Humanistik


A.      Aliran Psikoanalisa        


                                                             
Psikoanalisa merupakan suatu bentuk model kepribadian. Teori ini sendiri pertama kali diperkenalkan oleh Sigmund Freud (1856-1938). Inti dari teori psikoanalisa adalah alam bawah sadar dan kejadian di masa lampau terutama masa kecil. Freud pada awalnya memang mengembangkan teorinya tentang struktur kepribadian dan sebab-sebab gangguan jiwa dan dengan konsep teorinya yaitu perilaku dan pikiran dengan mengatakan bahwa kebanyakan apa yang kita lakukan dan pikirkan hasil dari keinginan atau dorongan yang mencari pemunculan dalam perilaku dan pikiran. Menurut teori psikoanalisa, inti dari keinginan dorongan ini adalah bahwa mereka bersembunyi dari kesadaran individual. Dan apabila dorongan – dorongan ini tidak dapat disalurkan, dapat menyebabkan gangguan kepribadian dan juga menggangu kesehatan mental yang disebut psikoneurosis.

Dorongan-dorongan dan keinginan yang ingin muncul dalam bentuk perilaku pada diri kita ini berasal dari tingkat kehidupan mental yang telah di rumuskan oleh Freud. Bagi freud, kehidupan mental terbagi menjadi dua tingkat, alam tidak sadar dan alam sadar. Alam tidak sadar terbagi menjadi dua tingkat, alam tidak sadar dan alam bawah sadar. Dalam psikoloi Freudian, ketiga tingkat kehidupan mental ini dipahami, baik sebagai prose maupun lokasi. Berikut merupakan pengertian yang lebih lanjut:


a.       Alam Tidak Sadar
Alam tidak sadar (unconscious) menjadi tempat bagi segala dorongan, desakan, maupun insting yang tak kita sadari ternyata mendorong perkataan, perasaan, dan tindakan kita.

b.    Alam Bawah Sadar
Alam bawah sadar (preconsciuous) ini memuat semua elemen yang tak disadar, tetapi bisa muncul dalm kesadaran dengan cepat atau agak sukar.

c.    Alam Sadar
Alam sadar yang memainkan peran tidak berarti dalam teori psikoanalisis, didefinisikan sebagai elemn-elemen mental yang setiap saat berasda dalam kesadaran. Ada dua pintu yang dapat dilalui oleh pikiran agar masuk kea lam sadar. Pintu pertama adalah melalui system kesadaran perseptual dan yang kedua dating dari dalam struktur mental dan mencakup gagasan-gagasan yang membuat cemas, tetapi terselubung dengan rapi yang berasal dari alam tidak sadar.

Dengan kata lain, mereka tidak disadari. Ini adalah ekspresi dari dorongan tidak sadar yang muncul dalam perilaku dan pikiran. Istilah “motivasi yang tidak disadari” / (unconscious motivation) menguraikan ide kunci dari psikoanalisa. Psikoanalisis mempunyai metode untuk membongkar gangguan – gangguan yang terdapat dalam ketidaksadaran ini, antara lain dengan metode analisis mimpi dan metode asosiasi bebas.

Selain dorongan-dorongan yang mendasari perilaku tesebut, Teori psikologi Freud juga didasari pada keyakinan bahwa dalam diri manusia terdapat suatu energi psikis yang sangat dinamis. Energi psikis inilah yang mendorong individu untuk bertingkah laku. Menurut psikoanalisis, energi psikis itu berasumsi pada fungsi psikis yang berbeda yaitu: Id, Ego dan Super Ego. Id merupakan energi psikis yang didasari oleh prinsip kesenangan dan tidak bermoral, Ego merupakan energi psikis yang bekerja berdasarkan prinsip realitas selain itu juga mencari jalan keluar supaya id dan ego sama-sama dapat terpuaskan tanpa merugikan yang lainnya, sedangkan Super Ego merupakan energi psikis yang bekerja berdasarkan prinsip moralitas dan norma-norma yang ada. 

Hubungan Psikoanalisa dengan Kesehatan Mental
Dengan begitu, bila kita hubungkan ke kesehatan mental, aliran psikoanalisa tentu memandang kesehatan mental sebagai seimbangnya fungsi, id, ego, dan super ego. Dengan kata lain orang yang sehat mentalnya dapat menyesuaikan berbagai dorongan dalam dirinya dengan kenyataan dan norma yang ada. Dengan demikian, telah tumbuh kemampuan untuk mengatasi tekanan-tekanan yang berasal dari berbagai tingkat kehidupan mental yang ada pada kehidupan kita. Sehingga tercapailah individu yang tidak memiliki gangguan pada mental dan sehat secara mental.

B.    Aliran Humanistik




Abraham Maslow (1908-1970) dapat dipandang sebagai Bapak dari psikologi humanistik. Gerakan ini merasa tidak puas terhadap psikologi behavioristik dan psikoanalisis, dan memfokuskan penelitiannya pada manusia dengan ciri-ciri eksistensinya. Selain Abraham Maslow. Psikolog yang mengembangkan aliran Humanistik adalah Carl Rogers dan Gordon Allport.

Psikologi humanistik mulai di Amerika Serikat pada tahun 1950 dan terus berkembang. Tokoh-tokoh Psikologi Humanistik memandang behavorisme mendehumanisasi manusia. Yang paling menonjol dari psikologi humanistik adalah hirarki kebutuhan manusia yang dipopulerkan oleh Maslow dalam bukunya “Motivation and Personality” meliputi:


1) Kebutuhan-kebutuhan fisiologis (the physiological needs)
2) Kebutuhan-kebutuhan rasa aman (the safety needs / the security needs)
3) Kebutuhan rasacinta dan memiliki (the love and belongingness needs)
4) Kebutuhan akan penghargaan diri (the self-esteem needs)
5) Kebutuhan akan aktualisasi diri (the self-actualization needs)


Psikologi Humanistik mengarahkan perhatiannya pada humanisasi psikologi yang menekankan keunikan manusia. Menurut Psikologi Humanistik manusia adalah makhluk kreatif, yang dikendalikan oleh nilai-nilai dan pilihan-pilihannya sendiri bukan oleh kekuatan-kekuatan ketidaksadaran. Asumsi dasar aliran ini yang membedakan dengan aliran lain adalah perhatian pada makna kehidupan bahwa manusia bukanlah sekedar pelakon tetapi pencari makna kehidupan. Aliran ini menganggap setiap orang memiliki kemampuan untuk lebih baik, memiliki pandangan yang optimistic dan berharap lebih baik.

Gambaran ahli psikologi humanistik tentang kodrat manusia adalah optimis dan penuh harapan. Mereka percaya terhadap kapasitas manusia untuk memperluas, memperkaya, mengembangkan, dan memenuhi dirinya, untuk menjadi semuanya menurut kemampuan yang ada. Aliran Humanistik juga memfokuskan diri pada kemampuan manusia untuk berfikir secara sadar dan rasional dalam mengendalikan hasrat biologisnya guna meraih potensi maksimal. Manusia bertanggung jawab terhadap hidup dan perbuatannya serta mempunyai kebebasan dan kemampuan untuk mengubah sikap dan perilaku mereka.

Maka dari itu, ciri dari kepribadian sehat adalah mengatualisasikan diri, bukan respon pasif buatan atau individu yang terimajinasikan oleh pengalaman-pengalaman masa lalu. Aktualisasi diri adalah mampu mengedepankan keunikan dalam pribadi setiap individu, karena setiap individu memiliki hati nurani dan kognisi untuk menimbang-nimbang segala sesuatu yang menjadi kebutuhannya. Humanistik menegaskan adanya keseluruhan kapasitas martabat dan nilai kemanusiaan untuk menyatakan diri. Bagi ahli-ahli psikologi humanistik, manusia jauh lebih banyak memiliki potensi. Manusia harus dapat mengatasi masa lampau, kodrat biologis, dan ciri-ciri lingkungan. Manusia juga harus berkembang dan tumbuh melampaui kekuatan-kekuatan negatif yang secara potensial menghambat. Individu memiliki kemampuan dalam diri sendiri untuk mengerti diri, menentukan hidup, dan menangani masalah – masalah psikisnya asalkan konselor menciptakan kondisi yang dapat mempermudah perkembangan individu untuk aktualisasi diri.

Hubungan Aliran Humanistik dengan Kesehatan Mental
Maka dari itu, dapat disimpulkan bahwa orang yang sehat mentalnya menurut aliran humanistik adalah orang yang mampu mengaktualisasikan diri mereka. Yaitu, orang yang mampu mengedepankan keunikan diri mereka dalam mengatasi segala masalah dan dan memenuhi kebutuhannya karena setiap individu telah dibekali kognisi dan hati nurani untuk melakukan hal tersebut. Manusia yang sehat mentalnya harus dapat mengatasi permasalahan dalam hidupnya dengan yakin akan keunikan dan kemampuannya sendiri dan terus mengembangkan kemampuan tersebut.


SUMBER: 
https://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/e/e0/Abraham_Maslow.jpg
Feist, Jess, & Feist, G.J. (2010). Teori Kepribadian (buku 2) (edisi 7). Jakarta: Salemba Humanika 
Schultz, D. (1991). Psikologi Pertumbuhan : Model-model Kepribadian Sehat. Alih bahasa : Yustinus. Yogya : Kanisius
Basuki,Heru. 2008. Psikologi Umum. Jakarta : Universitas Gunadarma.




Thursday, March 10, 2016

KONSEP SEHAT: SPIRITUAL, INTELEKTUAL, EMOSIONAL, SOSIAL, DAN FISIK

Istilah sehat dalam kehidupan sehari-hari sering dipakai untuk menyatakan bahwa sesuatu dapat bekerja secara normal. Bahkan benda mati pun seperti kendaraan bermotor atau mesin, jika dapat berfungsi secara normal, maka seringkali oleh pemiliknya dikatakan bahwa kendaraannya dalam kondisi sehat. Kebanyakan orang mengatakan sehat jika badannya merasa segar dan nyaman. Bahkan seorang dokterpun akan menyatakan pasiennya sehat manakala menurut hasil pemeriksaan yang dilakukannya mendapatkan seluruh tubuh pasien berfungsi secara normal. Namun demikian, pengertian sehat yang sebenarnya tidaklah demikian.

Menurut UU Pokok Kesehatan No. 9 tahun 1960, Bab I Pasal 2 adalah keadaan yang meliputi kesehatan badan (jasmani), rohani (mental), dan sosial, serta bukan hanya keadaan bebas dari penyakit, cacat, dan kelemahan. Pengertian sehat tersebut sejalan dengan pengertian sehat menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 1975 sebagai berikut: Sehat adalah suatu kondisi yang terbebas dari segala jenis penyakit, baik fisik, mental, dan sosial. Batasan kesehatan tersebut di atas sekarang telah diperbaharui bila batasan kesehatan yang terdahulu itu hanya mencakup tiga dimensi atau aspek, yakni: fisik, mental, dan sosial, maka dalam Undang- Undang N0. 23 Tahun 1992, kesehatan mencakup 4 aspek, yakni: fisik (badan), mental (jiwa), sosial, dan ekonomi. Batasan kesehatan tersebut diilhami oleh batasan kesehatan menurut WHO yang paling baru.

            Berikutnya, saya akan membahas tentang konsep kesehatan menurut berbagai sudut pandang. Pertama, konsep sehat secara spiritual. Dapat diartikan spiritual adalah kehidupan kerohanian. Orang-orang yang sehat secara spiritual adalah orang-orang yang menyerahkan diri kepada agama kepercayaannya masing-masing, dan kondisi jiwa dan id mereka secara rohani di anggap sehat karena mereka mempunyai pikiran yang jernih dan tidak melakukan hal-hal dalam luar batas dan juga berpikir secara rasional, serta mematuhi peraturan dan larangan yang dianjurkan agama yang dianutnya. Dengan demikian agama yang dianutnya tersebut dapat menyehatkan bagi rohani dan jiwa mereka.
            Selanjutnya, konsep sehat secara intelektual berarti orang yang mampu memecahkan masalah dengan pikiran yang tenang adalah orang yang mampu dan dapat menyelesaikan masalahnya sendiri. Mereka dapat mencari apa akar dari masalah mereka dan mencari jalan keluar dari masalah yang dihadapi demi kesejahteraan mereka sendiri. Itulah mengapa orang yang sedang kurang sehat secara intelektual atau mengalami stress sering kali meminta bantuan orang lain untuk memecahkan masalahnya.
            Selanjutnya, konsep sehat secara emosional. Sehat secara dimensi emosi adalah orang yang dapat menstabilkan dan dapat mengontrol bahkan mengekspresikan perasaanya, seperti marah, sedih, kesal maupun senang dengan secara tidak berlebihan. Maka dari itu orang yang cenderung mengekspresikan emosinya secara berlebihan sering dianggap kurang sehat kejiwaannya.
            Selanjutnya, konsep sehat secara sosial bisa dikatakan sehat secara dimensi sosial adalah ketika seseorang dapat berinteraksi atau berhubungan dengan orang lain ataupun dengan kelompok maupun dengan organisasi dengan baik tanpa membedakan agama, suku, ras, dll dengan saling menghargai satu dengan yang lainnya. Orang yang tidak suka  berinteraksi dengan orang lain cenderung dikatakan antisosial dan dapat mengindikasikan berbagai gangguan kejiwaan.
            Terakhir, konsep sehat secara fisik merupakan seseorang secara klinis tidak ada penyakit atau semua organ tubuh normal, tidak ada gangguan apapun didalam fungsi tubuhnya dengan kata lain seseorang tersebut tidak merasakan sakit ataupun mengeluh sakit dan tidak ada proses yang janggal yang terjadi pada setiap anggota tubuhnya.


                Seluruh aspek kesehatan ini semuanya sama pentingnya dan saling mempengaruhi satu sama lainnya. Orang yang tidak sehat secara rohani maupun emosional dapat mempengaruhi kesehatannya secara fisik, begitupun sebaliknya. Saya berharap tulisan saya ini dapat menambah pengetahuan pembaca sekalian tentang pentingnya kesehatan dalam berbagai aspek kehidupan kita. 

Sumber:


http://www.zakapedia.com/2013/08/pengertian-sehat-apa-itu-sehat.html


http://desiviveri.blogspot.co.id/2015/03/konsep-sehat-berdasarkan-emosi.html

Friday, June 5, 2015

Tugas Akhir Pengembangan Kreativitas dan Keberbakatan

Pada tugas akhir mata kuliah softskill Pengembangan Kreativitas dan Keberbakatan ini, kami diminta untuk menampilkan bakat kami masing- masing secara berkelompok.

Sehubungan dengan tugas tersebut, saya dan beberapa teman teman saya akan menampilkan bakat kami berupa memasak. Pada tugas akhir ini, kami akan membuat kue brownies, Bahan-bahan yang kami butuhkan berupa tepung terigu, telur ayam, gula pasir, margarin, dark chocolate, almond/ kenari mete (sesuai selera). Sedangkan alat- alat yang dibutuhkan untuk membuat kue brownies ini berupa alat-alat memasak sederhana berupa mangkuk, oven, mixer, dsb. Dikarenakan keterbatasan waktu dan tempat, cara memasaknya akan kami rekam dan kami tampilkan dalam bentuk video. 

Kurang lebih seperti itulah gambaran tugas akhir yang akan kelompok kami presentasikan di depan kelas nanti.

Friday, April 24, 2015

Kenali Potensi Diri Anda!



                Kata potensi berasal dari serapan dari bahasa Inggris, yaitu potencial. Artinya ada dua kata, yaitu, (1) kesanggupan; tenaga (2) dan kekuatan; kemungkinan. Sedangkan menurut kamus besar bahasa Indonesia, definisi potensi adalah kemampuan yang mempunyai kemungkinan untuk dikembangkan, kekuatan, kesanggupan, daya.Intinya, secara sederhana, potensi adalah sesuatu yang bisa kita kembangkan (Majdi, 2007:86).

                Potensi dapat diartikan sebagai kemampuan dasar dari sesuatu yang masih terpendam didalamnya yang menunggu untuk diwujudkan menjadi sesuatu kekuatan nyata dalam diri sesuatu tersebut (Wiyono, 2006:37). Dengan demikian potensi diri manusia adalah kemampuan dasar yang dimiliki manusia yang masih terpendam didalam dirinya yang menunggu untuk diwujudkan menjadi suatu manfaat nyata dalam kehidupan diri manusia.
                Sangat penting untuk mengetahui potensi diri kita masing- masing, karena potensi diri meriupakan susatu anugerah yang telah diberikan Tuhan YME kepada setiap individu. Menurut saya potensi yang ada dalam diri saya semenjak kecil adalah musik. Saya sudah gemar menyanyi sejak saya masih kecil. Saya menggemari bermacam- macam jenis musik, dan dari kecil saya dengan sangat  gampang menghafalkan lirik lagu. Saya juga dibesarkan di tengah- tengah lingkungan keluarga yang mencintai musik, dari saya kecil setiappagi,ibu saya sering menyetel beberapa kaset kesukaannya, sehingga saya sangat terbiasa dengan berbagai macam genre lagu. Kemudahan saya menghafal lirik lagu ini mungkin dikarenakan kecintaan saya terhadap music, sehingga semenjak kecil ketika saya mendengarkan lagu saya selalu ingin mngerti dan menghayati inti dari lagu tersebut. Hingga saya beranjak dewas pun, saya selalu menghayati danmenghafalkan lagu yang saya sukai, jadi saya tidak hanya sekedar mendengarkan. Semakin kita beranjak dewasa, biasanya kita akan lebih mengenali aliran music yang paling kita sukai.
                Selain itu, potensi dalam diri saya menurut saya adalah public speaking. Semenjak saya kecil, saya cenderung mudah mengikuti orang yang berbahasa asing dan belajar bahasa asing. Saya juga suka berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain semenjak kecil. Saya suka berdiskusi dan berkumpul. Saya jarang menemui kesulitan untuk berbicara didepan khalayak ramai, walaupun saya kurang latihan sebelumnya, tapi saya biasanya selalu bisa mengatasi kebingungan saya. Walau bagai manapun, saya terkadang tetap merasa gugup bila berbicara di depan sekumpulan orang yang belum saya kenal, namun biasanya saya selalu bisa mengatasi rasa cemas dan gugup saya. Hal ini mungkin dikarenakan semenjak kecil saya dididik oleh ibu saya harus menjadi orang yang berani berbicara di depan siapapun selama hal yang saya biacarakan adalah kebenaran.
                Itulah beberapa potensi dalam diri saya yang saya kenali semenjak kecil. 




Sumber:  http://www.kajianpustaka.com/2013/10/potensi-diri.html

Friday, April 17, 2015

Perbedaan Bakat dan Kreativitas

            Setiap individu memiliki karakteristik yang berbeda-beda,termasuk dalam bidang dan kadar dari bakat yang dimilikinya.Menurut devinisi Semiawa(Ali & Asrori, 2005) menyimpulkan bahwa bakat adalah kemampuan alamiah untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilan, baik yang bersifat umum maupun yang bersifat khusus.Dengan bakat, memungkinkan seseorang untuk mencapai prestasi dalam bidang tertentu.Tetapi, untuk mewujudkan bakat ke dalam suatu prestasi diperlukan latihan, pengetahuan, pengalaman, dan motivasi.Berkaitan dengan hal tersebut, U.S. Office of Education menekankan bahwa anak berbakat  memerlukan pelayanan dan program pendidikan khusus dengan potensi, minat dan kemampuan agar dapat merealisasikan sumbangan mereka terhadap masyarakat dan untuk pengembangan dirr sendiri.Jadi, bakat adalah seberapa baik seseorang memiliki kemampuan pada bidang pegetahuan atau keterampilan khusus dengan berlatih.
            Selain itu terdapat alat yang digunakan untuk menyingkap kemampuan khusus ini disebut tes bakat atau aptitude test. Tes bakat yang dirancang untuk mengungkap prestasi belajar pada bidang tertentu dinamakan Scholastic Aptitude Test dan yang dipakai di bidang pekerjaan adalah Vocational Aptitude Test dan Interest Inventory. Contoh dari Scholastic Aptitude Test adalah Tes Potensi Akademik (TPA) dan Graduate Record Examination (GRE). Sedangkan contoh dari Vocational Aptitude Test atau Interest Inventory adalah Differential Aptitude Test (DAT) dan Kuder Occupational Interest Survey.
            Kreativitas merupakan salah satu ciri dari perilaku yang inteligen karena kreativitas juga merupakan manifestasi dari suatu proses kognitif. Meskipun demikian, hubungan antara kreativitas dan inteligensi tidak selalu menunjukkan bukti-bukti yang memuaskan. Walau ada anggapan bahwa kreativitas mempunyai hubungan yang bersifat kurva linear dengan inteligensi, tapi bukti-bukti yang diperoleh dari berbagai penelitian tidak mendukung hal itu. Skor IQ yang rendah memang diikuti oleh tingkat kreativitas yang rendah pula. Namun semakin tinggi skor IQ, tidak selalu diikuti tingkat kreativitas yang tinggi pula. Sampai pada skor IQ tertentu, masih terdapat korelasi yang cukup berarti. Tetapi lebih tinggi lagi, ternyata tidak ditemukan adanya hubungan antara IQ dengan tingkat kreativitas.
            Para ahli telah berusaha mencari tahu mengapa ini terjadi. J. P. Guilford menjelaskan bahwa kreativitas adalah suatu proses berpikir yang bersifat divergen, yaitu kemampuan untuk memberikan berbagai alternatif jawaban berdasarkan informasi yang diberikan. Sebaliknya, tes inteligensi atau bakat hanya dirancang untuk mengukur proses berpikir yang bersifat konvergen, yaitu kemampuan untuk memberikan satu jawaban atau kesimpulan yang logis berdasarkan informasi yang diberikan. Ini merupakan akibat dari pola pendidikan tradisional yang memang kurang memperhatikan pengembangan proses berpikir divergen walau kemampuan ini terbukti sangat berperan dalam berbagai kemajuan yang dicapai oleh ilmu pengetahuan. 




 Sumber:
http://pemulihanjiwa.com/perbedaan-antara-inteligensi-bakat-dan-kreativitas.html
 http://mettaadnyana.blogspot.com/2014/06/makalah-bakat-dan-kreativitas.html

Thursday, March 19, 2015

My Talented Mom



Dalam post kali ini, saya ingin mendeskripsikan orang berbakat menurut saya.

Orang terdekat saya yang menurut saya berbakat adalah ibu saya. Bakat yang dimiliki ibu saya adalah memasak. Ibu saya dapat memasak berbagai macam makanan khususnya makanan indonesia. Ibu saya sangat peka terhadap rasa sehingga makanan yang dimasaknya selalu terasa lezat. Bakat yang dimiliki beliau ini mungkin diturunkan dari nenek saya, yang juga jago memasak. Saat saya bertanya soal bagaimana ibu saya bisa memiliki keahlian memasak ini, ibu saya berkata bahwa ia tidak pernah belajar. Ia hanya melihat nenek saya pada waktu memasak dan mencicipinya. Saat masih kecil dulu, nenek saya bahkan tidak pernah mengajarkan ibu saya memasak. Dari pengakuan ibu saya, keahlian memasak nya ini mengalir begitu saja, beliau hanya bertanya- tanya pada nenek saya apa resep masakan yang akan dimasak lalu beliau dengan cepat dapat menyajikan makanan tersebut denngan lezat. Selain itu, ibu saya juga suka mencoba resep- resep baru yang didapatkannya dari tv atau teman-temannya. Apapun yang dimasak oleh ibu saya rasanya selalu lezat. Jarang sekali beliau memasak sesuatu lalu gagal dan rasanya tidak sesuai dengan harapan. masakan ibu saya adalah favorit ayah saya, kakak saya, dan saya tentunya. Pernah suatu ketika kakak saya ditanya tentang tempat makan dan makanan terenak yang pernah dia makan, dan kakak saya menjawab tempat makan yang paling enak adalah rumah dan makanan terenak adalah masakan ibu saya. Masakan ibu saya yang menjadi favorit bagi saya adalah udang goreng tepung, filet ayam, dan ayam panggang. Masakan ibu saya yang menjadi favorit kakak saya adalah makanan tradisional jawa yaitu sayur pedas dan mangut. Masakan ibu saya yang menjadi favorit ayah saya adalah sayur asam dan ikan panggang. kami semua memiliki favorit kami tersendiri. Dan kami sekeluarga adalah penggemar makanan pedas kecuali ayah saya.

Saya dan ibu saya sangat dekat sekali. Ibu saya adalah ibu sekaligus sahabat saya. Saya telah berencana liburan kenaikan semester nanti ingin belajar memasak dengan ibu saya. Saya berharap saya juga mewarisi bakat memasak ibu saya.