Thursday, April 14, 2016

ERICH FROMM






Konsep kepribadian menurut Fromm

                Asumsi dasar Fromm mengenai kepribadian individu adalah bahwa kepribadian individu hanya dapat dimengerti dengan cara memahami sejarah manusia. Hasil dari pemahaman sejarah manusia ini Fromm menemukan bahwa manusia, tidak seperti hewan, telah tercerai berai dari alamnya karena tidak memiliki insting kuat untuk beradaptasi dengan dunia luar. Sebagai gantinya, manusia memperoleh kemampuan bernalar- yang selanjutnya disebut Fromm sebagai dilema manusia. Hal ini diartikan bahwa kemampuan bernalar manusia merupaka anugerah dan juga kutukan, hal ini memaksa manusia untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dasar yang selanjutya di sebut sebagai “dikotomi eksistensial”. Dikotomi dikotomi tersebut meliputi: 1. Asumsi mengenai hidup dan mati, 2. Manusia mampu membentuk konsep dan tujuan realisasi diri utuh tapi menyadari bahwa hidup terlalu singkat untuk mencapai tujuan tersebut, 3. Manusia pada akhirnya sendiri namun tidak dapat menerima pengucilan atau isolasi.

                Dengan adanya dilema-dilema tersebut, timbullah kebutuhan manusia yag tumbuh dari usaha untuk menemukan jawaban atas keberadaan mereka. Kebutuhan-kebutuhan tersebut meliputi:

1.       Keterhubungan: Tiga cara dasar manusia untuk terhubung adalah dengan 1. Kepasrahan, 2. Kekuasaan, 3. Cinta. Namun, cara yang paling produktif untuk mencapai keterhubungan adalah dengan cinta. Empat komponen cinta menurut Fromm adalah: perhatian, tanggung jawab, rasa hormat, dan pengetahuan.
2.       Keunggulan: Merupakan dorongan untuk melampaui keberadaan yang pasif dan menuju alam yang penuh makna dan kebebasan. Dapat dicapai melalui pendekatan produktif yaitu melalui hal-hal kreatif atau pendekatan non produktif yaitu melalui hal-hal destruktif.
3.       Keberakaran: Kebutuhan untuk berakar dan pulang kembali ke dunia. Dapat dicapai dengan pendekatan produktif dan non produktif. Contoh pendekatan produktif adalah ketika berhenti disapih dan non produktif ketika terjadi fiksasi pada perkembangan.
4.       Kepekaan akan identitas: Kemampuan untuk menyadari diri sendiri sebagai wujud terpisah. Dengan cara produktif dapat dicapai dengan penyesuain diri dalam kelompok. Dengen cara non produktif dapat di capai dengan individualitas.
5.       Kerangka orientasi: Peta jalan atau orientasi untuk mencari jalannya dalam dunia. Dengan kata lain menentukan tujuan hidupnya. Dengan cara produktif dapat dicapai dengan menentukan tujuan rasional sedangkan dengan cara non produktif dengan cara menentukan tujuan irasional.

Cara –cara kita dalam meraih berbagai macam kebutuhan diatas tersebut yang kemudian dapat membentuk karakter dan selanjutnya mencerminkan kepribadian kita. Cara-cara tersebut disebu sebagai orientasi karakter.

Orientasi karakter dibagai menjadi orientasi produktif dan non produktif:

1.       Orientasi Produktif: Meliputi dimensi bekerja, mencintai, dan bernalar.
2.       Orientasi non produktif: Meraih sesuatu melalui 4 cara yaitu: Reseptif, Eksploitatif, Menimbun, dan Memasarkan.

Kepribadian yang sehat menurut Fromm

                Berdasarkan penjelasan diatas, orang yang berkepribadian sehat menurut Fromm tentu saja orang yang meraih segala sesuatu dengan berorientasi produktif. Menjadi produktif berarti menggunakan semua tenaga dan potensinya. Fromm mengartikan kata itu lebih jauh dan luas, yaitu berarti sebagai berfungsi sepenuhnya, mengaktualisasikan diri, mencintai, keterbukaan, dan mengalami. Orang-orang yang sehat menciptakan diri mereka dengan melahirkan semua potensi mereka, denngan menjadi semua kesanggupan mereka, dengan memenuhi semua kapasitas mereka.

                Salah satu dimensi dari orientasi yang produktif adalah Cinta yang produktif. Digambarkan sebagai suatu hubungan manusia yang bebas dan sederajat di mana partner-partner dapat mempertahankan individualitas mereka. Cinta yang produktif menyangkut empat komponen- perhatian, tanggung jawab, respek, dan pengetahuan. Mencintai orang lain berarti sungguh-sungguh memperhatikan kesejahteraan mereka, dan membantu pertumbuhan dan perkembangan mereka. Juga orang-orang yang dicintai dipandang dengan respek dan menerima individualitas mereka, mereka dicintai menurut siapa dan apa adanya. Dan untuk menghormati mereka, kita harus memiliki pengetahuan penuh terhadap mereka.

                Pemikiran yag produktif tidak dapat dipisahkan dari kerja yang produktif. Meliputi kecerdasan, pertimbangan, dan objektivitas. Fromm percaya bahwa seluruh penemuan dan wawasan hebat melibatkan pikiran objektif, di mana pemikir didorong oleh ketelitian, respek, dan perhatian untuk menilai secara objektif seluruh masalah. Manusia yang sehat melihat orang secara objektif apa adanya, bukan sebagai orang yang mereka ingin jadikan.

                Fromm percaya bahwa kepribadian yang sehat juga  bergantung pada kombinasi dari kelima orientasi non produktif yang ada. Bertahannya mereka sebagai individu yang sehat bergantung kepada kemampuan mereka untuk menerima sesuatu dari orang lain, mengambil saat sesuai, memelihara suatu hal, menukar suatu hal, dan untuk bekerja, mencintai, dan berpikir secara produktif.

Perkembangan Kesehatan Mental Menurut Fromm

Berdasarkan penjelasan mengenai kepribadian diatas, dapat disimpulkan beberapa hal menurut Fromm yang turut mempengaruhi perkembangan kesehatan mental.

 Mereka yang memiliki kesehatan mental yang baik dapat menentukan penggunaan komponen orientasi non produktif yang berbeda beda pada setiap kesempatan, karena pada dasarnya ke lima orientasi tersebut pasti ada dalam diri kita. Namun, perbedaan orang yang sehat secara mental dan tidak sehat adalah orang yang mentalnya tidak sehat cenderung menggunakan satu cara terus menerus untuk meraih kebutuhannya tanpa menyesuaikan dengan situasi yang ada. Dengan kata lain komponen-komponen yang disebut sebagai orientasi non produktif ini dapat dirubah menjadi produktif. 

Selain itu yang tak kalah pentingnya adalah orang yang sehat secara mental harus mampu mencintai, bekerja, dan bernalar secara produktif. Sebagai tambahan, orang yang sehat secara mental memiliki kecintaan kepada hidup, atau biofilia.Mereka memikirkan pertumbuhan dan perkembangan diri mereka dan juga orang lain. Individu dengan biofilia ingin memengaruhi manusia lain melalui cinta , alasan, dan teladan-tidak dengan pemaksaan.


Begitu pentingnya cinta, nalar, dan bekerja secara produktif hingga Fromm menggambarkan orang yang tidak sehat mentalnya ditandai dengan masalah dalam tiga area, khususnya kegagalan untuk mencintai secara produktif. Fromm menyatakan bahwa orang-orang yang terganggu secara psikologis tidak mampu mencintai dan gagal mencapai kesatuan dengan yang lainnya. 


SUMBER:

Feist, Jess, & Feist, G.J. (2010). Teori kepribadian (buku 2) (edisi 7). Jakarta: Salemba Humanika 

Schultz, D. (1991). Psikologi pertumbuhan : Model-model Kepribadian Sehat. Alih bahasa : Yustinus. Yogya : Kanisius

Basuki,Heru. 2008. Psikologi umum. Jakarta : Universitas Gunadarma.

Kesehatan Mental Menurut Allport



GORDON ALLPORT





KONSEP KEPRIBADIAN MENURUT ALLPORT

Dalam mendefinisikan istilah, hanya sedikit psikolog yang melakukannya dengan cermat dan secara komprehensif seperti yang dilakukan Allport. Melalui analisis yang cermat tersebut Allport telah mengeluarkan 49 definisi kepribadian, hingga pada tahun 1937, ia kemudian menawarkan definisi yang ke -50 yaitu, “organisasi dinamis dari sistem psikofisik individu yang menentukan caranya yang khas untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya.”.  Pada tahun 1961, Allport mengubah frasa terakhirnya menjadi “yang menentukan karakteristik perilaku dan pikirannya” karena ia menyadari bahwa frasa “penyesuaian dengan lingkungannya” hanya berarti manusia hanya sekedar beradaptasi dengan lingkungannya. Allport memilih setiap frasa dengan sangat hati-hati, istilah “organisasi yang dinamis” mengimplikasikan integrasi dari beragam aspek kepribadian. Kepribadian merupakan sesuatu yang terorganisasi dan terpola. Akan tetapi, organisasi ini selalu dapat berubah, sehingga digunakan “dinamis”. Sedangkan istilah “psikofisik” digunakan untuk menunjukkan pentingnya aspek psikologis maupun kepribadian dalam kepribadian. Melalui kata “karakteristik” Allport ingin mengimplikasikan ke khas an kepribadian manusia. Sedangkan kata “perilaku dan pikiran” merujuk pada apapun hal yang dilakukan oleh orang tersebut. Singkatnya, definisi Allport mengenai kepribadian memberikan gagasan bahwa manusia adalah produk dan proses; manusia mempunyai struktur yang terorganisasi, sementara pada waktu yang bersamaan, mereka memproses kemampuan untuk berubah. Kesimpulannya, kepribadian mencakup sistem fisik dan psikologis; meliputi perilaku yang terlihat dan perilaku yang tidak terlihat; serta tidak hanya merupakan sesuatu tapi juga melakukan sesuatu. 

Dengan begitu, dapat dilihat bahwa pandangan- pandangan Allport berbeda dengan Freud. Kodrat manusia yang diutarakan oleh Allport adalah positif, penuh harapan, dan menyanjung- nyanjung. Allport tidak percaya bahwa pribadi yang normal dan sehat dipengaruhi oleh kekuatan-kekuatan yang tidak dapat dilihat dan dipengaruhi. Orang-orang yang sehat tidak didorong oleh konflik-konflik tak sadar yang jauh berada di alam bawah sadar. Namun, Allport mengakui bahwa kekuatan-kekuatan tak sadar tersebut mempengaruhi tingkah laku orang-orang neurotis. Sedangkan orang-orang yang sehat dibimbing oleh intensi-intensi ke arah masa depan dan antisipasi-antisipasi masa depan.

KEPRIBADIAN YANG SEHAT


Allport berdasarkan analisisnya yang panjang telah menyusun kriteria kepribadian yang matang. Namun sebelum itu, kita harus tau apa itu ‘diri’ yang sehat sebelum kita berbicara mengenai kepribadian yang sehat. Karena banyaknya kekaburan mengenai konsep diri di ranah psikologi, Allport mengambil istilah “propium” untuk mengganti kata “diri”. Kata propium ini dapat didefinisikan dengan memikirkan bentuk sifat “propiate” dalam kata “appropriate”. Karena propium adalah kata ganti dari diri maka tentu saja ada yang disebut dengan perkembangan propium menurut Allpport yang nantinya akan berpengaruh dalam diri seseorang apakah mampu untuk mengembangkan kepribadian yang matang.

Berikut merupakan tahapan perkembangan propium:
1.       Diri “Jasmaniah”: Terjadi pada usia 15 bulan, bayi mulai bisa mengembangkan perbedaan yang kabur antara “dalam diri saya” dan “luar diri saya”
2.       Kesadaran akan “saya jasmaniah”: Bayi mulai membedakan antara jari-jarinya dan benda yang dipegang dalam jari-jarinya
3.       Identitas-diri: Anak mulai sadar akan identitasnya yang berlangsung terus sebagai orang yang terpisah.
4.       Harga-diri: Timbul perasaan bangga pada anak di usia 2 tahun akan hasil belajar dan karyanya sendiri.
5.       Perluasan diri: Anak sudah mulai menyadari orang-orang lain dan benda-benda dalam lingkungannya dan fakta beberapa diantaranya merupakan miliknya.
6.       Gambaran diri: Hal ini menunjukkan anak telah dapat melihat dirinya dan mengungkapkan pendapat tentang dirinya.
7.       Diri sebagai pelaku rasional: Anak belajar bawa ia dapat memecahkan masalah-masalah logika dan rasional
8.       Perjuangan propium: Tahap ini dimulai saat remaja disaat sibuk-sibuknya mencari identitas diri. Segi yang sangat penting dari pencarian identitas adalah definisi tujuan hidup. Pentingnya pencarian ini adalah untuk pertama kalinya orang memperhatikan masa depan, tujuan-tujuan, dan impian-impian jangka panjang.

Suatu kegagalan atau kekecewaan hebat di salah satu tingkat perkembangan propium akan mempengaruhi tingkatan berikutnya.  Selanjutnya, bila perkembangan berjalan lancar, intensi-intensi, aspirasi-aspirasi, dan harapan-harapan orang itu di masa remaja dan seterusnya mendorong ke arah kepribadian yang matang. Berikut merupakan criteria kepribadian yang matang menurut Allport:
 
1.       Perluasan perasaan diri: Pribadi yang matang mencari informasi dan menidentifikasikan diri dengan dunia luar. Mereka tidak terpusat dengan dunia sendiri dan mampu terlibat dengan urusan yang tidak terpusat pada diri mereka. Singkatnya, mereka memiliki minat tinggi terhadap kehidupan sosial.
2.       Hubungan yang hangat dengan orang lain: Manusia yang sehat secara psikologis memperlakukan orang lain dengan rasa hormat, serta menyadari bahwa kebutuhan, keinginan, dan harapan orang lain merupakan hal yang tidak sepenuhnya asing dengan milik mereka sendiri. Mereka memiliki kapasitas untuk mencintai orang lain dalam cara-cara yang intim dan sewajarnya serta rasa simpatik dengan orang lain. Sikap seksual orang yang sehat tidak memaksa orang lain untuk pemuasan diri mereka.
3.       Keamanan emosional dan penerimaan diri: Pribadi yang matang dapat menerima dirinya sendiri dan memiliki apa yang disebut Allport keseimbangan emosional. Mereka tidak berkutat dan frustasi dan hal-hal kecil, dan menganggap ketidaknyamanan sebagai bagian dari hidup.
4.       Insight dan Humor: Pribadi yang matang tidak mempunyai kebutuhan untuk emngatribusikan kesalahannya pada orang lain. Selera humor mereka tidak kasar dan tidak menyangku seksualitas. Allport yakin bahwa insight dan humor sangat berhubungan, serta mungkin merupakan aspek-aspek dari hal yang sama, yaitu pemahaman diri sendiri. Pribadi yang sehat lebih objektif dalam melihat diri sendiri dan tidak perlu menggunakan topeng dalam kehidupannya.
5.       Filosofi Kehidupan yang integral: Manusia yang sehat memiliki tujuan hidup yang jelas. Orang yang memiliki tujuan hidup sebagai batu sendi kehidupan mereka akan memberikan kontinuitas pada kepribadian mereka. Memiliki nilai-nilai dan tujuan yang kuat membedakan orang dengan pribadi sehat dan neurotis. Orang yang neurotis tidak memiliki nilai-nilai atau hanya memiliki nilai-nilai yang terpecah belah dan bersifat sementara.

PERKEMBANGAN KESEHATAN MENTAL


                Berdasarkan penjelasan-penjelasan diatas, dapat disimpulkan bahwa perkembangan kesehatan mental yang baik tentu saja merupakan orang dengan kepribadian yang sehat. Karena, disaat kita memiliki kepribadian yang sehat, hal itu akan menentukan perilaku dan tindakan kita yang juga mencakup keadaan mental kita. Kepribadian yang baik dapat terjadi pada individu yang melalui perkembangan propium dengan lancar sesuai tahapannya sehingga harapan-harapan, nilai-nilai, dan aspirasi-aspirasi yang telah di dapat dari perkembangan propium tersebut dapat mendorong individu untuk mencapai kepribadian yang sehat, yang tentu saja mencakup kondisi mental yang sehat pula. Dengan adanya tahapan perkembangan propium tersebut, Allport membuktikan bahwa pengalaman-pengalaman masa kanak-kanak sangat penting untuk perkembangan mental dan kepribadian yang sehat. 

Namun demikian, Allport berasumsi bahwa hanya pada orang neurotis terdapat hubungan yang masih bersinambung kepada masa kanak-kanak. Sebaliknya, pada orang dengan kepribadian yang sehat lebih berfokus pada masa sekarang dan masa depan. Hal ini juga dapat menggambarkan bagaimana kesehatan mental terdapat pada orang yang berkepribadian sehat pula karena orang yang sehat secara mental tentu lebih berfokus pada antisipasi, ide-ide, dan juang. Mereka memiliki tujuan dari pada tinggal pada peristiwa-peristiwa masa lampau sehingga tidak mampu melanjutkan hidupnya kembali.
Allport juga menekankan bahwa seseorang mencapai kesehatan mental dan psikologis ketika ia dapat mengarahkan dirinya kepada orang lain dan sama sekali tidak terpusat pada diri sendiri.  Mereka yag kepribadiannya sehat juga mampu bersimpati dan menjalin hubungan hangat dengan orang lain, tidak hanya berlaku pasif dengan orang-orang dan apa yang ada di sekelilingnya. 


Dengan demikian, perkembangan mental yang sehat menurut Allport adalah yang memenuhi perkembangan propium dengan lancar, yang selanjutnya akan dapat menentukan tujuan hidupnya dan mampu mengarahkan dirinya dan menjalin hubungan yang positif dengan orang-orang lain.



SUMBER:

Feist, Jess, & Feist, G.J. (2010). Teori Kepribadian (buku 2) (edisi 7). Jakarta: Salemba Humanika 

Schultz, D. (1991). Psikologi Pertumbuhan : Model-model Kepribadian Sehat. Alih bahasa :
Yustinus. Yogya : Kanisius


Basuki,Heru. 2008. Psikologi Umum. Jakarta : Universitas Gunadarma.

Tuesday, March 22, 2016

Kesehatan Mental Menurut Aliran Psikoanalisa dan Humanistik


A.      Aliran Psikoanalisa        


                                                             
Psikoanalisa merupakan suatu bentuk model kepribadian. Teori ini sendiri pertama kali diperkenalkan oleh Sigmund Freud (1856-1938). Inti dari teori psikoanalisa adalah alam bawah sadar dan kejadian di masa lampau terutama masa kecil. Freud pada awalnya memang mengembangkan teorinya tentang struktur kepribadian dan sebab-sebab gangguan jiwa dan dengan konsep teorinya yaitu perilaku dan pikiran dengan mengatakan bahwa kebanyakan apa yang kita lakukan dan pikirkan hasil dari keinginan atau dorongan yang mencari pemunculan dalam perilaku dan pikiran. Menurut teori psikoanalisa, inti dari keinginan dorongan ini adalah bahwa mereka bersembunyi dari kesadaran individual. Dan apabila dorongan – dorongan ini tidak dapat disalurkan, dapat menyebabkan gangguan kepribadian dan juga menggangu kesehatan mental yang disebut psikoneurosis.

Dorongan-dorongan dan keinginan yang ingin muncul dalam bentuk perilaku pada diri kita ini berasal dari tingkat kehidupan mental yang telah di rumuskan oleh Freud. Bagi freud, kehidupan mental terbagi menjadi dua tingkat, alam tidak sadar dan alam sadar. Alam tidak sadar terbagi menjadi dua tingkat, alam tidak sadar dan alam bawah sadar. Dalam psikoloi Freudian, ketiga tingkat kehidupan mental ini dipahami, baik sebagai prose maupun lokasi. Berikut merupakan pengertian yang lebih lanjut:


a.       Alam Tidak Sadar
Alam tidak sadar (unconscious) menjadi tempat bagi segala dorongan, desakan, maupun insting yang tak kita sadari ternyata mendorong perkataan, perasaan, dan tindakan kita.

b.    Alam Bawah Sadar
Alam bawah sadar (preconsciuous) ini memuat semua elemen yang tak disadar, tetapi bisa muncul dalm kesadaran dengan cepat atau agak sukar.

c.    Alam Sadar
Alam sadar yang memainkan peran tidak berarti dalam teori psikoanalisis, didefinisikan sebagai elemn-elemen mental yang setiap saat berasda dalam kesadaran. Ada dua pintu yang dapat dilalui oleh pikiran agar masuk kea lam sadar. Pintu pertama adalah melalui system kesadaran perseptual dan yang kedua dating dari dalam struktur mental dan mencakup gagasan-gagasan yang membuat cemas, tetapi terselubung dengan rapi yang berasal dari alam tidak sadar.

Dengan kata lain, mereka tidak disadari. Ini adalah ekspresi dari dorongan tidak sadar yang muncul dalam perilaku dan pikiran. Istilah “motivasi yang tidak disadari” / (unconscious motivation) menguraikan ide kunci dari psikoanalisa. Psikoanalisis mempunyai metode untuk membongkar gangguan – gangguan yang terdapat dalam ketidaksadaran ini, antara lain dengan metode analisis mimpi dan metode asosiasi bebas.

Selain dorongan-dorongan yang mendasari perilaku tesebut, Teori psikologi Freud juga didasari pada keyakinan bahwa dalam diri manusia terdapat suatu energi psikis yang sangat dinamis. Energi psikis inilah yang mendorong individu untuk bertingkah laku. Menurut psikoanalisis, energi psikis itu berasumsi pada fungsi psikis yang berbeda yaitu: Id, Ego dan Super Ego. Id merupakan energi psikis yang didasari oleh prinsip kesenangan dan tidak bermoral, Ego merupakan energi psikis yang bekerja berdasarkan prinsip realitas selain itu juga mencari jalan keluar supaya id dan ego sama-sama dapat terpuaskan tanpa merugikan yang lainnya, sedangkan Super Ego merupakan energi psikis yang bekerja berdasarkan prinsip moralitas dan norma-norma yang ada. 

Hubungan Psikoanalisa dengan Kesehatan Mental
Dengan begitu, bila kita hubungkan ke kesehatan mental, aliran psikoanalisa tentu memandang kesehatan mental sebagai seimbangnya fungsi, id, ego, dan super ego. Dengan kata lain orang yang sehat mentalnya dapat menyesuaikan berbagai dorongan dalam dirinya dengan kenyataan dan norma yang ada. Dengan demikian, telah tumbuh kemampuan untuk mengatasi tekanan-tekanan yang berasal dari berbagai tingkat kehidupan mental yang ada pada kehidupan kita. Sehingga tercapailah individu yang tidak memiliki gangguan pada mental dan sehat secara mental.

B.    Aliran Humanistik




Abraham Maslow (1908-1970) dapat dipandang sebagai Bapak dari psikologi humanistik. Gerakan ini merasa tidak puas terhadap psikologi behavioristik dan psikoanalisis, dan memfokuskan penelitiannya pada manusia dengan ciri-ciri eksistensinya. Selain Abraham Maslow. Psikolog yang mengembangkan aliran Humanistik adalah Carl Rogers dan Gordon Allport.

Psikologi humanistik mulai di Amerika Serikat pada tahun 1950 dan terus berkembang. Tokoh-tokoh Psikologi Humanistik memandang behavorisme mendehumanisasi manusia. Yang paling menonjol dari psikologi humanistik adalah hirarki kebutuhan manusia yang dipopulerkan oleh Maslow dalam bukunya “Motivation and Personality” meliputi:


1) Kebutuhan-kebutuhan fisiologis (the physiological needs)
2) Kebutuhan-kebutuhan rasa aman (the safety needs / the security needs)
3) Kebutuhan rasacinta dan memiliki (the love and belongingness needs)
4) Kebutuhan akan penghargaan diri (the self-esteem needs)
5) Kebutuhan akan aktualisasi diri (the self-actualization needs)


Psikologi Humanistik mengarahkan perhatiannya pada humanisasi psikologi yang menekankan keunikan manusia. Menurut Psikologi Humanistik manusia adalah makhluk kreatif, yang dikendalikan oleh nilai-nilai dan pilihan-pilihannya sendiri bukan oleh kekuatan-kekuatan ketidaksadaran. Asumsi dasar aliran ini yang membedakan dengan aliran lain adalah perhatian pada makna kehidupan bahwa manusia bukanlah sekedar pelakon tetapi pencari makna kehidupan. Aliran ini menganggap setiap orang memiliki kemampuan untuk lebih baik, memiliki pandangan yang optimistic dan berharap lebih baik.

Gambaran ahli psikologi humanistik tentang kodrat manusia adalah optimis dan penuh harapan. Mereka percaya terhadap kapasitas manusia untuk memperluas, memperkaya, mengembangkan, dan memenuhi dirinya, untuk menjadi semuanya menurut kemampuan yang ada. Aliran Humanistik juga memfokuskan diri pada kemampuan manusia untuk berfikir secara sadar dan rasional dalam mengendalikan hasrat biologisnya guna meraih potensi maksimal. Manusia bertanggung jawab terhadap hidup dan perbuatannya serta mempunyai kebebasan dan kemampuan untuk mengubah sikap dan perilaku mereka.

Maka dari itu, ciri dari kepribadian sehat adalah mengatualisasikan diri, bukan respon pasif buatan atau individu yang terimajinasikan oleh pengalaman-pengalaman masa lalu. Aktualisasi diri adalah mampu mengedepankan keunikan dalam pribadi setiap individu, karena setiap individu memiliki hati nurani dan kognisi untuk menimbang-nimbang segala sesuatu yang menjadi kebutuhannya. Humanistik menegaskan adanya keseluruhan kapasitas martabat dan nilai kemanusiaan untuk menyatakan diri. Bagi ahli-ahli psikologi humanistik, manusia jauh lebih banyak memiliki potensi. Manusia harus dapat mengatasi masa lampau, kodrat biologis, dan ciri-ciri lingkungan. Manusia juga harus berkembang dan tumbuh melampaui kekuatan-kekuatan negatif yang secara potensial menghambat. Individu memiliki kemampuan dalam diri sendiri untuk mengerti diri, menentukan hidup, dan menangani masalah – masalah psikisnya asalkan konselor menciptakan kondisi yang dapat mempermudah perkembangan individu untuk aktualisasi diri.

Hubungan Aliran Humanistik dengan Kesehatan Mental
Maka dari itu, dapat disimpulkan bahwa orang yang sehat mentalnya menurut aliran humanistik adalah orang yang mampu mengaktualisasikan diri mereka. Yaitu, orang yang mampu mengedepankan keunikan diri mereka dalam mengatasi segala masalah dan dan memenuhi kebutuhannya karena setiap individu telah dibekali kognisi dan hati nurani untuk melakukan hal tersebut. Manusia yang sehat mentalnya harus dapat mengatasi permasalahan dalam hidupnya dengan yakin akan keunikan dan kemampuannya sendiri dan terus mengembangkan kemampuan tersebut.


SUMBER: 
https://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/e/e0/Abraham_Maslow.jpg
Feist, Jess, & Feist, G.J. (2010). Teori Kepribadian (buku 2) (edisi 7). Jakarta: Salemba Humanika 
Schultz, D. (1991). Psikologi Pertumbuhan : Model-model Kepribadian Sehat. Alih bahasa : Yustinus. Yogya : Kanisius
Basuki,Heru. 2008. Psikologi Umum. Jakarta : Universitas Gunadarma.




Thursday, March 10, 2016

KONSEP SEHAT: SPIRITUAL, INTELEKTUAL, EMOSIONAL, SOSIAL, DAN FISIK

Istilah sehat dalam kehidupan sehari-hari sering dipakai untuk menyatakan bahwa sesuatu dapat bekerja secara normal. Bahkan benda mati pun seperti kendaraan bermotor atau mesin, jika dapat berfungsi secara normal, maka seringkali oleh pemiliknya dikatakan bahwa kendaraannya dalam kondisi sehat. Kebanyakan orang mengatakan sehat jika badannya merasa segar dan nyaman. Bahkan seorang dokterpun akan menyatakan pasiennya sehat manakala menurut hasil pemeriksaan yang dilakukannya mendapatkan seluruh tubuh pasien berfungsi secara normal. Namun demikian, pengertian sehat yang sebenarnya tidaklah demikian.

Menurut UU Pokok Kesehatan No. 9 tahun 1960, Bab I Pasal 2 adalah keadaan yang meliputi kesehatan badan (jasmani), rohani (mental), dan sosial, serta bukan hanya keadaan bebas dari penyakit, cacat, dan kelemahan. Pengertian sehat tersebut sejalan dengan pengertian sehat menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 1975 sebagai berikut: Sehat adalah suatu kondisi yang terbebas dari segala jenis penyakit, baik fisik, mental, dan sosial. Batasan kesehatan tersebut di atas sekarang telah diperbaharui bila batasan kesehatan yang terdahulu itu hanya mencakup tiga dimensi atau aspek, yakni: fisik, mental, dan sosial, maka dalam Undang- Undang N0. 23 Tahun 1992, kesehatan mencakup 4 aspek, yakni: fisik (badan), mental (jiwa), sosial, dan ekonomi. Batasan kesehatan tersebut diilhami oleh batasan kesehatan menurut WHO yang paling baru.

            Berikutnya, saya akan membahas tentang konsep kesehatan menurut berbagai sudut pandang. Pertama, konsep sehat secara spiritual. Dapat diartikan spiritual adalah kehidupan kerohanian. Orang-orang yang sehat secara spiritual adalah orang-orang yang menyerahkan diri kepada agama kepercayaannya masing-masing, dan kondisi jiwa dan id mereka secara rohani di anggap sehat karena mereka mempunyai pikiran yang jernih dan tidak melakukan hal-hal dalam luar batas dan juga berpikir secara rasional, serta mematuhi peraturan dan larangan yang dianjurkan agama yang dianutnya. Dengan demikian agama yang dianutnya tersebut dapat menyehatkan bagi rohani dan jiwa mereka.
            Selanjutnya, konsep sehat secara intelektual berarti orang yang mampu memecahkan masalah dengan pikiran yang tenang adalah orang yang mampu dan dapat menyelesaikan masalahnya sendiri. Mereka dapat mencari apa akar dari masalah mereka dan mencari jalan keluar dari masalah yang dihadapi demi kesejahteraan mereka sendiri. Itulah mengapa orang yang sedang kurang sehat secara intelektual atau mengalami stress sering kali meminta bantuan orang lain untuk memecahkan masalahnya.
            Selanjutnya, konsep sehat secara emosional. Sehat secara dimensi emosi adalah orang yang dapat menstabilkan dan dapat mengontrol bahkan mengekspresikan perasaanya, seperti marah, sedih, kesal maupun senang dengan secara tidak berlebihan. Maka dari itu orang yang cenderung mengekspresikan emosinya secara berlebihan sering dianggap kurang sehat kejiwaannya.
            Selanjutnya, konsep sehat secara sosial bisa dikatakan sehat secara dimensi sosial adalah ketika seseorang dapat berinteraksi atau berhubungan dengan orang lain ataupun dengan kelompok maupun dengan organisasi dengan baik tanpa membedakan agama, suku, ras, dll dengan saling menghargai satu dengan yang lainnya. Orang yang tidak suka  berinteraksi dengan orang lain cenderung dikatakan antisosial dan dapat mengindikasikan berbagai gangguan kejiwaan.
            Terakhir, konsep sehat secara fisik merupakan seseorang secara klinis tidak ada penyakit atau semua organ tubuh normal, tidak ada gangguan apapun didalam fungsi tubuhnya dengan kata lain seseorang tersebut tidak merasakan sakit ataupun mengeluh sakit dan tidak ada proses yang janggal yang terjadi pada setiap anggota tubuhnya.


                Seluruh aspek kesehatan ini semuanya sama pentingnya dan saling mempengaruhi satu sama lainnya. Orang yang tidak sehat secara rohani maupun emosional dapat mempengaruhi kesehatannya secara fisik, begitupun sebaliknya. Saya berharap tulisan saya ini dapat menambah pengetahuan pembaca sekalian tentang pentingnya kesehatan dalam berbagai aspek kehidupan kita. 

Sumber:


http://www.zakapedia.com/2013/08/pengertian-sehat-apa-itu-sehat.html


http://desiviveri.blogspot.co.id/2015/03/konsep-sehat-berdasarkan-emosi.html

Friday, June 5, 2015

Tugas Akhir Pengembangan Kreativitas dan Keberbakatan

Pada tugas akhir mata kuliah softskill Pengembangan Kreativitas dan Keberbakatan ini, kami diminta untuk menampilkan bakat kami masing- masing secara berkelompok.

Sehubungan dengan tugas tersebut, saya dan beberapa teman teman saya akan menampilkan bakat kami berupa memasak. Pada tugas akhir ini, kami akan membuat kue brownies, Bahan-bahan yang kami butuhkan berupa tepung terigu, telur ayam, gula pasir, margarin, dark chocolate, almond/ kenari mete (sesuai selera). Sedangkan alat- alat yang dibutuhkan untuk membuat kue brownies ini berupa alat-alat memasak sederhana berupa mangkuk, oven, mixer, dsb. Dikarenakan keterbatasan waktu dan tempat, cara memasaknya akan kami rekam dan kami tampilkan dalam bentuk video. 

Kurang lebih seperti itulah gambaran tugas akhir yang akan kelompok kami presentasikan di depan kelas nanti.